Penayangan bulan lalu

Senin, Maret 12, 2012

Culture Shock! Which Do You Prefer, City like Tokyo or rural suburban like Inaba?

Pertanyaan seperti ini kerap kali datang ketika kita mengunjungi tempat lain yang rupanya berbeda total daripada tempat kita tinggal sebelumnya. Ketika kita berpikir kota besar di Jepang, itu adalah Tokyo. Dan daerah terpencil bisa kita bayangkan dengan cepat saat ini hanyalah Inaba.

Kalau kita gunakan logika saja, kehidupan dasar penduduk di kedua daerah tersebut pastinya berbeda sangat 'kan? Dimana remaja Tokyo suka bermain--seperti di Jakarta, dan dibandingkan dengan daerah kecil yang notabene-nya para remaja hanya memiliki sedikit pilihan untuk menunda kepulangannya ke rumah.

Protagonist kita AKA Yu Narukami adalah anak kota yang dipindah sekolahkan oleh orang tuanya ke Inaba, tempat pamannya berada. Kehidupan sebelumnya di kota besar bisa kita simpulkan benar-benar berbeda dari lingkungan barunya yang bernama Inaba. Jika kita lihat dari anime, kita bisa tahu daerah seperti apa yang kereta satu gerbong Yu telusuri untuk sampai di tempat tujuan, Inaba. Begitu pula saat Yu turun dari kereta dan menatap sekelilingnya dengan wajah bingung/waswas.

Pada saat True ending dari game-nya, kita akan diperlihatkan dengan pemandangan perbukitan hijau, jembatan dua rel kereta, dan juga sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Hmm, lazzees kalo penulis bole bilang. Jika dibandingkan dengan perkotaan seperti Tokyo, yang mana bangunan-bangunan pencakar langit mengelilinginya. Menghilangkan segala macam penghijauan.

Nah, bahasan kali ini adalah: Culture Shock. --adalah fenomena yang kerap terjadi pada seseorang yang berpindah tempat/dimutasi/transfer ke suatu daerah yang adat atau peraturan tata krama yang sungguh berbeda.
Jika seseorang tidak bisa mengatasi gejala Culture shock ini, ia akan mengalami kesulitan berbaur dengan sesama di lingkungan barunya.

Gejala ini banyak ditemukan pada orang-orang perkotaan yang pindah tempat ke daerah terpencil tadi. Tapi tidak hanya domestically, gejala ini juga berlaku ketika seseorang mengunjungi negara lain. Dengan banyaknya peraturan dan juga tata krama yang berbeda total, mau tidak mau dia harus menyesuaikan diri dengan itu semua.

Yu Narukami tidak mengalami kesulitan berarti. Hanya saja, sifatnya saat pertama datang memang agak tertutup. Tapi, dia berusaha membuka dirinya, dan menerima Yosuke, Chie, Yukiko dan lainnya secara berurutan sebagai sahabat yang berharga. Begitupula pada Ryotaro, pamannya dan Nanako, sepupunya. Ikatan-ikatan itu semua dapat diperolehnya karena Yu berhasil menekan Culture Shock-nya, dan mengubahnya menjadi Chance akan hal baru. Alhasil, dia menerima kekuatan ikatan tersebut sebagai core dari kekuatannya.

Mungkin ini juga salah satu yang dimaksud Power to know Oneself. Oneself ini bisa juga diartikan bagaimana kita menekan ego kita, dan mencoba membuka diri terhadap lingkungan dan pengalaman baru.




A birds-eye view of Inaba. Courtesy: http://megamitensei.wikia.com 
(Page)
Ditulisa oleh Vhisma Brahma AKA Crow Inaba

1 komentar:

  1. Blognya dikasih nuansa merah sedikit, biar kesan Magatsu Indonesianya lebih kerasa gitu...

    dan usahakan ada admin tambahan supaya ntar terawat blognya

    BTW, Like This BLOG!

    BalasHapus