Penayangan bulan lalu

Sabtu, Maret 31, 2012

Yosuke and his Self-Centeredness

Pada sesi karakter, kita akan membahas karakter dan juga masalah mereka. Lalu Syndrom macam apakah yang mereka alami. Mulai dari sini kita akan membahas secara psikologikal seorang manusia, dan tidak ada salahnya jika pembaca sekalian memperdalam lagi soal permasalahan mereka dengan meneruskannya di laman-lama situs lain seperti Wikipedia. 

Dan menurut saya pribadi, memang -mungkin- itulah yang ATLUS niatkan dengan membuat Persona 4 ini.
Oke, on to the article, siapa 'sih yang tidak kenal dengan comic-relief dari Persona 4? Dia bersaing keras dengan Junpei dari Persona 3 di posisi teratas sebagai bahan lelucon oleh yang lainnya. Tapi sebagai the best buddy, atau the second-man dalam grup, peran mereka berdua sangatlah penting. Tidak hanya story-wise, tapi juga secara hiburan. Mereka berdua adalah tokoh penting dalam pembentukan karakter tokoh utama, sehingga dapat berbanding seimbang di dalam cerita. apalagi sebagai silent MC (Main Character) dalam versi game.

Oke, bicara mengenai Yosuke Hanamura (that clown above), yang terlintas di dalam benak kita adalah pemuda berambut coklat (brunette) dengan sepasang head-phone berwarna jingga mengitari lehernya. Warna default untuk Brosuke adalah jingga, sifatnya ceria walau terkadang bisa emosi juga seperti Kanji Tatsumi. Persona-nya adalah Jiraiya, si ninja katak (serius) dalam kisah mitologi dan cerita rakyat Jepang sejak dahulu kala. Saya tidak akan berdongeng lebih jauh, karena Jiraiya punya kolomnya sendiri nanti, ok? (pada postingan berikutnya, mungkin)

Perkenalannya sudah, lalu sekarang kita membicarakan mengenai psikologi dari si pangeran Junes Inaba.

Yosuke adalah seorang pemuda yang berasal dari kota. Saya tidak ingat kalau dia berasal dari kota yang sama dengan Yu Narukami, MC kita, tapi yang saya tahu dengan jelas Yosuke adalah sosok pemuda yang berbeda dengan Yu Narukami.

Yosuke senang menjadi pusat perhatian, berbeda dengan Yu yang supel. Yosuke suka melawak (so pasti), berbeda dengan Yu yang hanya sesekali mengeluarkan runing gag yang menggelitik; dengan kata lain, Yu hanya melakukan sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi di mana dirinya berada. Selain Yu adalah sosok yang bisa membuat orang lain senang dengan kata-kata dan pujiannya, Yosuke lebih menjorok kepada sifat remaja yang suka menyenangkan orang lain/memuji berlebihan/membuat orang kesal tanpa disadarinya. Dia juga ceroboh dibandingkan Yu, atau bahkan ketimbang Kanji Tatsumi sebagai juniornya. Namun sisi plus-nya, Yosuke selalu ada di sana untuk menceriakan suasana (bersama Teddie), yang notabene-nya tidak semua orang sanggup melakukannya di dalam lingkungan penuh kabut yang tengah digentayangi teror kematian beberapa orang.

Semuanya berjalan biasa, seperti remaja pada biasanya. Tapi ketika kita membicarakan isu mengenai remaja, sifat alamiah mereka yang tidak bisa dibendung adalah self-centeredness.

Self-centeredness

"Oh ya, ampun. Aku ini hebat. Aku ini keren. Tidak ada yang sebaik diriku. Aku adalah si nomor satu. Semua orang harus memandangku lebih daripada yang lain. Aku patut mereka hormati, dan inilah 'aku'. Inilah 'diriku'."

Berbicara mengenai 'aku' dan 'diriku', semuanya yang membaca artikel ini pasti akan teringat dengan kata-kata ini: "Ore wa omae ra. Omae wa ore da." (gak gitu pinter bahasa Jepang, so CMIIW) atau "I am thou. Thou art I." dengan bahasa Inggrisnya. Jika kita Indonesia-kan (biar lebih meng-regional gitu deh) menjadi seperti: "Diriku adalah dirimu. Engkau adalah diriku."

YOSUKE (KIRI) & SHADOW 'bad-ass' YOSUKE (KANAN)

Dan, inilah masalah Yosuke yang tidak ingin diakuinya. Menjadi pusat perhatian dan melakukan apa yang dikehendakinya. Menginvestigasi tempat kematian seseorang yang menarik hatinya, hanya untuk aji mumpung, siapa tahu dirinya bisa tahu 'kebenaran' dan menjadi pahlawan.

Shadow Yosuke (yang jujur, menurut penulis, jauh lebih keren daripada Yosuke asli) harus mengamuk, dan membuatnya tersadar kalau ini adalah penyakit kronis dari Yosuke.

Dia terlalu memikirkan dirinya sendiri, dan melupakan hal lainnya. Seperti kepentingan umum dan sekitarnya. Dia menyenangi pujian (banget), namun di sisi lain dia juga menyukai sifatnya yang cenderung suka membuat orang lain merasa senang walau caranya berbeda dengan Yu Narukami.

Yosuke juga tipikal seorang Hero atau Kamen Rider yang bertugas menumpas kejahatan (akan dibahas lebih jauh pada sesi Jiraiya, dan Susano-O)

Resolusi yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut bukan cuma mengakui dirinya, tapi mengubah dirinya. Saya tidak ingin nge-spoil lebih jauh lagi, tapi paling tidak kita sudah tahu kecenderungan Yosuke, dan yang terpenting, apakah kita juga memiliki hal seperti demikian dalam diri kita?

Woops, hati-hati jika Shadow-mu mulai berontak nantinya :)

Article by Vhisma AKA Crow Inaba
Learn more about Self-centeredness or Egocentrism here

Senin, Maret 19, 2012

Pendaftaran Co-Admin Magatsu-Indonesia

Saya sebagai Admin kedua mendapatkan titah (suruhan) untuk memposting ini di sini. ang minat silahkan diisi dan akan dibalas oleh Vhisma Crow Inaba nantinya. Bukan saya :)

Pendaftaran Admin Magatsu-Indonesia:

Nama:

Usia:

Karakter favorit: (Bukti bahwa kamu tahu sedikit tentang Persona 4)

Kesan-kesan saat bermain/menonton Persona 4: (Penting diisi untuk mendeskripsikan bahwa Persona 4 sudah tidak asing lagi bagi kamu)

Copy dan Paste seperti yang tercantum di bawah ini:

Saya bersedia menjadi Co-Admin Yasoinaba Magatsu-Indonesia dengan ketertiban untuk tidak mem-posting segala macam bentuk postingan yang berbau SARA atau bersifat subjektif (ex: pairing, bashing, dan spoiler). Dalam blog ini saya akan berbagi informasi dan artikel tentang Persona 4 saja, sesuai dengan apa yang tertulis di sini dan pada blog nantinya.

TTD, (nama kamu)

Peraturan Co-Admin (Penting!): Setiap postingan wajib menyertakan nama yang kamu gunakan pada akhir post. Ini gunanya untuk menandakan siapa yang menulis postingan ini. Penulis artikel (Co-Admin) harus menggunakan font RED pada setiap postingan artikel. Dan credit bagi Co-Admin harus disertakan dengan warna unik seperti yang sudah Crow Inaba AKA Vhisma gunakan (RED). Co-Admin lainnya bebas menggunakan warna apapun. Bersedia menulis artikel yang tidak bersifat subjektif, KECUALI dengan seijin dan sepengetahuan Admin utama, Vhisma. Admin sangat dipersilahkan mengundang dan memperkenalkan blog kepada teman-temannya. Admin juga diperbolehkan mencalonkan seseorang untuk menjadi Admin dengan persyaratan bahwa dia juga akan menaati peraturan dasar sebagai penulis pada blog. ?yang terakhir, sangat dimohonkan untuk menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Dengan kata lain, dimohon untuk tidak menggunakan bahasa 4L4y seperti ini.

Terima kasih, dan mohon maaf jikalau ada kata-kata yang menyinggung. Wassalam dan sampai jumpa lagi.

Pendaftaran dikirim ke: bisma_firdaoes@hotmail.com (Admin: Vhisma Brahma AKA Crow Inaba)

Ditulis oleh Sergeant

Senin, Maret 12, 2012

Culture Shock! Which Do You Prefer, City like Tokyo or rural suburban like Inaba?

Pertanyaan seperti ini kerap kali datang ketika kita mengunjungi tempat lain yang rupanya berbeda total daripada tempat kita tinggal sebelumnya. Ketika kita berpikir kota besar di Jepang, itu adalah Tokyo. Dan daerah terpencil bisa kita bayangkan dengan cepat saat ini hanyalah Inaba.

Kalau kita gunakan logika saja, kehidupan dasar penduduk di kedua daerah tersebut pastinya berbeda sangat 'kan? Dimana remaja Tokyo suka bermain--seperti di Jakarta, dan dibandingkan dengan daerah kecil yang notabene-nya para remaja hanya memiliki sedikit pilihan untuk menunda kepulangannya ke rumah.

Protagonist kita AKA Yu Narukami adalah anak kota yang dipindah sekolahkan oleh orang tuanya ke Inaba, tempat pamannya berada. Kehidupan sebelumnya di kota besar bisa kita simpulkan benar-benar berbeda dari lingkungan barunya yang bernama Inaba. Jika kita lihat dari anime, kita bisa tahu daerah seperti apa yang kereta satu gerbong Yu telusuri untuk sampai di tempat tujuan, Inaba. Begitu pula saat Yu turun dari kereta dan menatap sekelilingnya dengan wajah bingung/waswas.

Pada saat True ending dari game-nya, kita akan diperlihatkan dengan pemandangan perbukitan hijau, jembatan dua rel kereta, dan juga sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Hmm, lazzees kalo penulis bole bilang. Jika dibandingkan dengan perkotaan seperti Tokyo, yang mana bangunan-bangunan pencakar langit mengelilinginya. Menghilangkan segala macam penghijauan.

Nah, bahasan kali ini adalah: Culture Shock. --adalah fenomena yang kerap terjadi pada seseorang yang berpindah tempat/dimutasi/transfer ke suatu daerah yang adat atau peraturan tata krama yang sungguh berbeda.
Jika seseorang tidak bisa mengatasi gejala Culture shock ini, ia akan mengalami kesulitan berbaur dengan sesama di lingkungan barunya.

Gejala ini banyak ditemukan pada orang-orang perkotaan yang pindah tempat ke daerah terpencil tadi. Tapi tidak hanya domestically, gejala ini juga berlaku ketika seseorang mengunjungi negara lain. Dengan banyaknya peraturan dan juga tata krama yang berbeda total, mau tidak mau dia harus menyesuaikan diri dengan itu semua.

Yu Narukami tidak mengalami kesulitan berarti. Hanya saja, sifatnya saat pertama datang memang agak tertutup. Tapi, dia berusaha membuka dirinya, dan menerima Yosuke, Chie, Yukiko dan lainnya secara berurutan sebagai sahabat yang berharga. Begitupula pada Ryotaro, pamannya dan Nanako, sepupunya. Ikatan-ikatan itu semua dapat diperolehnya karena Yu berhasil menekan Culture Shock-nya, dan mengubahnya menjadi Chance akan hal baru. Alhasil, dia menerima kekuatan ikatan tersebut sebagai core dari kekuatannya.

Mungkin ini juga salah satu yang dimaksud Power to know Oneself. Oneself ini bisa juga diartikan bagaimana kita menekan ego kita, dan mencoba membuka diri terhadap lingkungan dan pengalaman baru.




A birds-eye view of Inaba. Courtesy: http://megamitensei.wikia.com 
(Page)
Ditulisa oleh Vhisma Brahma AKA Crow Inaba

Pembuka Persona 4 - Yasoinaba Indonesia



Game RPG mana yang menyediakan karakternya merupakan anak sekolahan dengan senjata seadanya? Yaah, ga seadanya juga 'sih. Tapi pada saat pertama kali main, player akan merasakan unsur retro dan juga kesederhanaan daerah rural. Karakter apa yang memulai petualangannya hanya berbekal Baseball batt? Kalau kunci inggris? Bagaimana kalau dia bawa kursi lipat sekolah buat ngegebukin musuh--AKA shadow? Makin edan, 'kan? Bagaimana dengan kipas lipat yang dipake buat nampar musuh? Semua kegilaan bertarung itu bisa ditemukan dalam Persona 4. [Lihat gambar atas] Dari kiri ke kanan; Protagonist AKA Yu Narukami pada versi anime, Yosuke, Chie, Yukiko, Kuma AKA Teddie, Rise, Kanji, dan Naoto.

Pembuka.

Salam semuanya. Saya, dengan penname Crow Inaba akan memulai blog ini. Mohon bantuannya.
Tujuan dari blog ini tidak lebih dari membahas mengenai franchise ATLUS, Shin Megami Tensei: Persona 4 atau Persona 4 saja untuk singkatnya.

Blog ini akan memuat berbagai macam informasi. Dari game, anime, dan juga artikel-artikel khusus. Artikel khusus di sini dimaksudkan untuk membahas Persona 4 secara lebih mendalam. Seperti membahas karakter, pribadi mereka, sampai segala macam simbol-simbol yang dapat ditemui sejauh diri kita menyelam ke dalam dunia Persona 4 dan khususnya, Midnight Channel/Mayonaka TV.

Jika kita tilik lebih dalam lagi, game dan anime ini sangat sarat akan makna tersembunyi. Tapi tentu, kita tidak akan membahasnya dalam artian yang memprovokasi. Simbol-simbol dan juga pesan tersirat itu, saya pikir sengaja dimunculkan untuk menciptakan fiksi yang tidak akan terpisah jauh dari kehidupan manusia. Dan juga, saya belum memberitahukan banyaknya pesan-pesan moral yang mungkin tidak terhitung jumlahnya.

Membahas game dan anime-nya juga akan sangat menarik untuk dibahas. Bersamaan dengan artikel khusus kita juga akan membicarakan perkembangan Persona 4 favorit kita ini. 

Saya selaku penulis berencana untuk lebih menitik beratkan ‘Apa’ yang ada dibalik series favorit kita ini.

Salam, Vhisma Brahma AKA Crow Inaba.