Pada sesi karakter, kita akan membahas karakter dan juga masalah mereka. Lalu Syndrom macam apakah yang mereka alami. Mulai dari sini kita akan membahas secara psikologikal seorang manusia, dan tidak ada salahnya jika pembaca sekalian memperdalam lagi soal permasalahan mereka dengan meneruskannya di laman-lama situs lain seperti Wikipedia.
Dan menurut saya pribadi, memang -mungkin- itulah yang ATLUS niatkan dengan membuat Persona 4 ini.
Oke, on to the article, siapa 'sih yang tidak kenal dengan comic-relief dari Persona 4? Dia bersaing keras dengan Junpei dari Persona 3 di posisi teratas sebagai bahan lelucon oleh yang lainnya. Tapi sebagai the best buddy, atau the second-man dalam grup, peran mereka berdua sangatlah penting. Tidak hanya story-wise, tapi juga secara hiburan. Mereka berdua adalah tokoh penting dalam pembentukan karakter tokoh utama, sehingga dapat berbanding seimbang di dalam cerita. apalagi sebagai silent MC (Main Character) dalam versi game.
Oke, bicara mengenai Yosuke Hanamura (that clown above), yang terlintas di dalam benak kita adalah pemuda berambut coklat (brunette) dengan sepasang head-phone berwarna jingga mengitari lehernya. Warna default untuk Brosuke adalah jingga, sifatnya ceria walau terkadang bisa emosi juga seperti Kanji Tatsumi. Persona-nya adalah Jiraiya, si ninja katak (serius) dalam kisah mitologi dan cerita rakyat Jepang sejak dahulu kala. Saya tidak akan berdongeng lebih jauh, karena Jiraiya punya kolomnya sendiri nanti, ok? (pada postingan berikutnya, mungkin)
Perkenalannya sudah, lalu sekarang kita membicarakan mengenai psikologi dari si pangeran Junes Inaba.
Yosuke adalah seorang pemuda yang berasal dari kota. Saya tidak ingat kalau dia berasal dari kota yang sama dengan Yu Narukami, MC kita, tapi yang saya tahu dengan jelas Yosuke adalah sosok pemuda yang berbeda dengan Yu Narukami.
Yosuke senang menjadi pusat perhatian, berbeda dengan Yu yang supel. Yosuke suka melawak (so pasti), berbeda dengan Yu yang hanya sesekali mengeluarkan runing gag yang menggelitik; dengan kata lain, Yu hanya melakukan sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi di mana dirinya berada. Selain Yu adalah sosok yang bisa membuat orang lain senang dengan kata-kata dan pujiannya, Yosuke lebih menjorok kepada sifat remaja yang suka menyenangkan orang lain/memuji berlebihan/membuat orang kesal tanpa disadarinya. Dia juga ceroboh dibandingkan Yu, atau bahkan ketimbang Kanji Tatsumi sebagai juniornya. Namun sisi plus-nya, Yosuke selalu ada di sana untuk menceriakan suasana (bersama Teddie), yang notabene-nya tidak semua orang sanggup melakukannya di dalam lingkungan penuh kabut yang tengah digentayangi teror kematian beberapa orang.
Semuanya berjalan biasa, seperti remaja pada biasanya. Tapi ketika kita membicarakan isu mengenai remaja, sifat alamiah mereka yang tidak bisa dibendung adalah self-centeredness.
Self-centeredness
"Oh ya, ampun. Aku ini hebat. Aku ini keren. Tidak ada yang sebaik diriku. Aku adalah si nomor satu. Semua orang harus memandangku lebih daripada yang lain. Aku patut mereka hormati, dan inilah 'aku'. Inilah 'diriku'."
Berbicara mengenai 'aku' dan 'diriku', semuanya yang membaca artikel ini pasti akan teringat dengan kata-kata ini: "Ore wa omae ra. Omae wa ore da." (gak gitu pinter bahasa Jepang, so CMIIW) atau "I am thou. Thou art I." dengan bahasa Inggrisnya. Jika kita Indonesia-kan (biar lebih meng-regional gitu deh) menjadi seperti: "Diriku adalah dirimu. Engkau adalah diriku."
YOSUKE (KIRI) & SHADOW 'bad-ass' YOSUKE (KANAN)
Dan, inilah masalah Yosuke yang tidak ingin diakuinya. Menjadi pusat perhatian dan melakukan apa yang dikehendakinya. Menginvestigasi tempat kematian seseorang yang menarik hatinya, hanya untuk aji mumpung, siapa tahu dirinya bisa tahu 'kebenaran' dan menjadi pahlawan.
Shadow Yosuke (yang jujur, menurut penulis, jauh lebih keren daripada Yosuke asli) harus mengamuk, dan membuatnya tersadar kalau ini adalah penyakit kronis dari Yosuke.
Dia terlalu memikirkan dirinya sendiri, dan melupakan hal lainnya. Seperti kepentingan umum dan sekitarnya. Dia menyenangi pujian (banget), namun di sisi lain dia juga menyukai sifatnya yang cenderung suka membuat orang lain merasa senang walau caranya berbeda dengan Yu Narukami.
Yosuke juga tipikal seorang Hero atau Kamen Rider yang bertugas menumpas kejahatan (akan dibahas lebih jauh pada sesi Jiraiya, dan Susano-O)
Resolusi yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut bukan cuma mengakui dirinya, tapi mengubah dirinya. Saya tidak ingin nge-spoil lebih jauh lagi, tapi paling tidak kita sudah tahu kecenderungan Yosuke, dan yang terpenting, apakah kita juga memiliki hal seperti demikian dalam diri kita?
Woops, hati-hati jika Shadow-mu mulai berontak nantinya :)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar